Surat Cinta Untuk Istriku

Ilustrasi (http://mohamadbasir.files.wordpress.com)

Dear Istriku yang sedang berjuang di dalam sana,
Hari ini aku akan resmi menjadi ayah. Entah dalam beberapa jam lagi.
Kekhawatiranku bukan tentang hari ini, tetapi rentetan hari-hari yang akan kita lewati setelah ini.
Aku, kamu, dan buah hati kita nanti.

Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk memberimu kabar buruk. Akan tetapi ketauhilah, tidak akan ada waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini. Aku baru saja di PHK dari perusahaan tempat ku bekerja. Perusahaan yang menafkahi keluarga kecil kita selama 2 tahun terakhir. Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu tentang ini, tetapi capat atau lambat kamu pasti akan tahu kondisi ini.

Entah kenapa di saat genting seperti ini. Di saat jutaan pasangan lain tersenyum bahagia menyambut kehadiran anak pertama mereka, sementara kita harus menghadapi musibah seperti ini.
Shit, Kenapa aku begitu egois memikirkan ini, sementara engkau sedang berjuang keras di dalam sana. Semestinya aku tidak punya waktu untuk memikirkan ini. Layaknya suami yang baik, seluruh waktu yang ku punya saat ini seharusnya ku habiskan untuk mendoakan keselamatan mu dan calon buah hati kita nanti.

Aku masih sibuk mengintip di sela-sela pintu ruang operasi. Sedari tadi aku mondar-mandir tak karuan di sini. Pikiranku bercabang dan tumbuh begitu liar. Udara yang tadinya sejuk berubah mencekam membuat ku tegang.  Ketahuilah, aku benar-benar mendoakanmu.

Ketakutanku tidak pernah melebihi saat ini. Aku belum pernah mengkhawatirkanmu seperti ini, mengingat kondisi kandunganmu yang lemah dan belum genap 9 bulan. Aku betul-betul ingin marah kepada Tuhan, kenapa semua cobaan ini datang di waktu yang bersamaan.

Aku memilih duduk tenang di ujung koridor. Sesekali aku menghela nafas seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku benar-benar rindu senyuman lepas yang kau seduhkan kedalam kopi hangat pagi tadi. Aku ingin mendengar cerita gila mu sebelum aku tertidur pulas di penghujung malam-malamku. Aku masih ingat betapa senangnya dirimu menceritakan masa depan anak kita nanti.

“Aku ingin anak kita jadi musisi handal, dan aku akan berdiri paling depan dengan tepuk tangan yang paling keras saat anak kita konser nanti”

Deretan kata-kata itu masih aku hafal meski telah kau ucapkan sejak kandunganmu masih berusia 3 bulan.  Dan ini merupakan alasan kenapa aku menghadiahimu sebuah headphone di hari ulang tahun mu 2 minggu yang lalu. Aku betul-betul ingat semua keinginanmu, meskipun kadang tidak masuk akal. Aku percaya kamu melebihi dari tingkat rasionalitas yang ada di kepalaku.

Aku tampak seperti pecundang saat ini. Aku bahkan tidak berani berkhayal tentang masa depan anak kita nanti. Dengan kondisi seperti ini, aku hanya bisa menghadiahimu janji-janji yang boleh kau tagih kapan saja, nanti.

Aku janji “aku tidak akan membuat dirimu dan anak kita nanti merasa kekurangan sedikit pun. Aku akan menjadi suami yang baik seperti yang kau tulis di diary mu semasa bangku sekolah. Aku juga berjanji akan menjadi sosok ayah yang baik buat anak kita nanti. Aku akan melindungi dan menafkahi kalian dengan mengerahkan seluruh potensi yang ku punya. Akan ku pertaruhkan nyawaku sekalipun untuk membuat kalian bahagia”

Aku benar-benar tidak sabar menanti saat-saat itu. Mungkin nanti kau akan membangunkanku hanya untuk mengganti popok anak kita nanti. Atau kita bertengkar kecil hanya karena aku salah menaruh takaran susu anak kita di malam hari. Mungkin ada baiknya, nanti kita membuat jadwal piket jaga malam seperti di film-film korea. J

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan panjang, setelah seorang suster keluar dan bergegas menghampiriku. Aku segera berdiri dan menanyakan kondisimu.
“Bagaimana sus?” “Apa anak ku lahir dengan selamat?”
Suster hanya diam dan memintaku berbicara langsung dengan dr.akio yang memimpin operasi . Aku pun bergegas menuju ruangannya yang tak jauh dari ruang operasi. Setibanya aku dengan nafas terengah-engah, aku menanyakan kondisimu.

Dr. Akio tampak terlihat tenang, beliau melepas kacamatanya sesaaat sebelum dia bernjak duduk. Aku benar-benar tegang, melebihi saat aku mengucapkan ijab qabul saat kita nikah dulu. Aku begitu khawatir, terlebih melihat raut wajah dr. Akio yang sedikit gamang.

“Selamat, anda menjadi ayah. Putra anda lahir dengan selamat dengan berat 2,5 kg, tetapi...”

Semenjak dulu aku tidak suka kata-kata setelah “tetapi”. Saat itu, aku seolah ingin terbangun dari mimpi dan semuanya baik-baik saja. Air mata ku tiba-tiba tertahan di garis terluar. Aku takut.

“Kondisi istrimu sedang kritis, dia mengalami pendarahan berkali-kali. Kondisinya begitu lemah, dan saat ini kita butuh pendonor darah yang tidak sedikit”

Sungguh, aku menangis dalam hati saat itu. Tercengang dan hanya mampu diam. Aku ingin segera menemuimu dalam kondisi apapun.

Untungnya dokter memperbolehkanku menemui mu di ruang ICU. Aku diperkenankan masuk setelah menggunakan baju operasi seperti yang dokter kenakan. Aku menggenggam tangan mu dan masih berharap itu bukanlah kau yang sebenarnya. Aku masih berharap kau terbangun dan teriak “surprise” seperti kau menjahiliku dengan berpura-pura pingsan di hari ulang tahunku dulu.

Sungguh aku masih ingin berlama-lama di sini. Meskipun kau tidak sadar saat ini, Aku menceritakan padamu bahwa anak kita laki-laki, ini seperti kejutan yang kau idam-idamkan selama ini. Bukan kah begitu? Aku masih ingat betapa kau menutup telinga setiap kali dokter selesai meng-USG kandungan mu. Kau benar-benar menantikan hari ini sebagai sebuah kejutan. Seharusnya kau sedang senyum bahagia dan memelukku erat. Aku benar-benar takut kehilangan kamu. Aku menyempatkan mencium keningmu sesaat setelah aku dipersilahkan keluar oleh suster.

Setelah menemuimu, Aku segera mengabari para keluarga dan kerabat dekat untuk mencari pendonor darah sebanyak mungkin.  Sayangnya golongan darah kita berbeda, padahal ketahuilah aku bahkan rela mendonorkan separuh nyawaku untuk melihat dirimu tersenyum sedikit saja.

Aku bergegas ke ruangan bayi. Tak sabar rasanya melihat putra pertama kita, entah wajahnya lebih mirip kamu atau justru lebih mirip aku. Siapapun dia, bagaimanapun rupanya, dia adalah anak kita yang akan memecah keheningan di istana sederhana kita nanti. Dia yang akan menjadi alasan untuk meredam keras kepala yang kita punya. Senyumannya akan menjadikan kita kuat, dan karena senyumannya juga kita berjuang.  

Di dalam sana aku menemui suster yang tadi ku temui pasca operasi. Aku bergegas menyapanya.

“Sus, tunjukkan dimana anakku?”

Jujur, aku sangat tabu mengucapkan kata “anakku”. Wajar, aku baru saja menjadi ayah beberapa menit yang lalu. Aku akan mencoba mengucapkan kata itu berulang kali nanti, agar aku menjadi biasa, seperti halnya aku terbiasa memanggilmu dengan ucapan “sayang”.

Suster pun menunjukkan anak kita. Aku melihat kakinya ada plester bertuliskan namamu di sana. Aku ingin menggendongnya segera tapi sayang suster tidak memperbolehkannya. Aku kasihan melihat kondisi putra kita, seharusnya saat ini dia sedang hangat berada dalam pelukanmu. Aku benar-benar merasa gagal menjadi ayah yang baik saat itu.

Aku pun beralih ke ruang ICU, di depan sana samar-samar kulihat sosok ibu dan ayahmu sedang mengintip kondisi mu dari lubang kaca transparan. Aku yakin, mereka tidak diperbolehkan masuk. Aku pun menemuinya dengan segera. Ternyata dugaan ku salah, mereka berdua adalah kawan lama semasa SMA dulu. Kebetulan mereka berdua mendapat kabar tentang keberadaan kita di Rumah sakit ini melalui sosial media.

Setelah itu aku betul-betul tak ingat apa-apa lagi. Aku tersadar dan kau sedang duduk manis disamping ku. Semuanya seperti mimpi yang panjang. Kau mencium ku dan membisikku dengan ucapan “anak kita laki-laki”.

Makassar, 9 November 2016

Related

Sastra 5409203348640572452

Posting Komentar

  1. wah selamat mas yang sudah punya baby hehe..

    BalasHapus
  2. okay. saya tidak mengerti endingnya :D

    tapi secara keseluruhan, ini bagus banget dan kind of sweet things. I wish I can write sweet stuff someday. haha.

    saya suka ini.

    BalasHapus
  3. Nagakak, masih smpai judul

    BalasHapus
  4. endingnya sulit untuk dibayangkan. apakah semua itu hanya mimpi buruk, atau masa masa sulit itu telah terlewati?

    BalasHapus
  5. endingnya sulit untuk dibayangkan. apakah semua itu hanya mimpi buruk, atau masa masa sulit itu telah terlewati?

    BalasHapus

emo-but-icon

RECENT

POPULAR

COMMENT

INFO

RANDOM POST

item